Enter your keyword

Art Director

Dalam setiap penyelenggaraannya, festival seni media internasional Instrumenta berupaya memetakan hubungan-hubungan maupun irisan antara praktik seni media—secara sederhana, sebagai seni yang menggunakan “teknologi media” dalam proses penciptaan dan mediasinya—dengan di- namika kebudayaan kontemporer.

Dalam menanggapi berbagai fenomena perubahan di masyarakat, praktik seni media senantiasa berdiri di dua sisi. Di satu sisi, seniman media bersikap afirmatif terhadap pencanggihan sains dan teknologi. Mereka memanfaatkan, bahkan merayakannya sebagai revolusi dalam praktik seni. Teknologi media—fotografi, film, video, komputer, Internet, dll.— telah dimanfaatkan oleh seniman untuk menciptakan idiom, gaya, maupun medium artistik baru yang mustahil dicapai oleh medium seni konvensional. Proyek-proyek kolaborasi interdisiplin antara seniman dan ilmuwan adalah perwujudan lain dari semangat ini.

Di sisi lainnya, seni media adalah praktik yang juga bersikap kritis pada optimisme berlebihan terhadap kemajuan sains dan teknologi. Kenyataannya, selain mendorong perubahan dan perbaikan kehidupan, sains dan tek- nologi telah melahirkan perangkat perang yang selama dua abad terakhir penggunaannya telah memakan jutaan korban.

Di tangan para kapitalis dan industrialis, teknologi berubah menjadi instrumen yang eksploitatif. Politisi juga memanfaatkan teknologi media untuk menghasilkan propaganda ideologis dan hoaks. Ketika teknologi disusupi kepentingan-kepentingan yang tidak berpihak kepada khalayak, para seniman media selalu menyuarakan kritik. Banyak karya seni media berupaya menyingkap selubung palsu realitas yang terkonstruksi melalui sains dan teknologi media.

Festival ini berusaha memberi penekanan pada upaya untuk melihat hubungan antara kecenderungan seni media di atas dengan fenomena artistik yang lebih luas, yang sering disebut sebagai “fiksi ilmiah” (FI). Selama ini FI se­ring dianggap sebagai bagian dari budaya populer global (melalui komik, animasi, film, novel, game digital, dll.) yang mencerminkan cita rasa orang kebanyakan dan oleh karena itu dianggap menempati posisi inferior. Dicirikan oleh narasi yang mencampurkan visi profetik dan artistik di satu pihak dengan teori, hipotesa dan fakta ilmiah di pihak lain, FI pernah dipandang sebagai “makhluk hibrida” yang serba ambigu—suatu contra- dictio in terminis. Dari perspektif “seni tinggi” atau high-art, FI adalah kitsch (seni rendah), sekaligus perwujudan dari ketergantungan berlebihan pada paradigma non-artistik (sains). Sementara di mata para ilmuwan, karya-karya FI tak lain hanyalah imajinasi liar yang tak punya relevansi praktis dan kontribusi langsung pada inovasi sains dan teknologi.

Karya-karya FI baru mendapat tempat yang lebih layak sebagai objek kajian budaya menyusul gelombang pascamodern dan pemikiran-pemikiran kiri baru (new left) pada tahun 60-an, namun, berkembang sejak kajian budaya (cultural studies) mulai mendunia pada 1980-an. Harus diakui, pengaruh penolakan para intelektual terhadap dikotomi yang tegas antara high art/modernism dan popular/mass culture turut memengaruhi kecenderungan ini. Seturut dengan munculnya kajian kebudayaan populer (popular culture studies), karya-karya FI mulai dikaji lebih mendalam sebagai teks atau narasi yang mengandung representasi (pascakolonial, sejarah, gender, ras, identitas seksual, kelas, dll.). Hanya saja, dalam sejumlah kasus, model kajian ini seringkali mengecilkan pembahasan mengenai elemen-elemen estetik/artistik yang justru menjadi medium utama para seniman FI.
Sedikit berbeda dengan pendekatan di atas, festival INSTRUMENTA #2: Machine/Magic masih menganggap FI sebagai suatu ekspresi artistik unik yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. FI adalah imajinasi manusia tentang sains dan teknologi yang justru memberikan jalan masuk alternatif untuk membicarakan praksis sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat pada masa-masa yang berbeda. Karya-karya FI menggambarkan hubungan-hubungan yang “mungkin” dan “tak mung­kin” terjadi antara manusia dan kemajuan teknologi yang dihasilkannya. Dalam karya-karya FI populer, tidak semua fakta, hipotesa maupun teori ilmiah menjadi acuan dalam narasi. Tidak sedikit karya-karya FI yang mencampurkan sains dengan spiritualitas, magi dan fantasi. Dalam sejumlah cerita FI, kecanggihan sains dan teknologi ternyata malah tidak mampu mengatasi kekuatan supranatural yang tidak terjelaskan secara nalar.

Sampai pada batas tertentu, dapat dikatakan bahwa karya-karya FI “mendekonstruksi” sains—sains sebagai praktik, bangunan atau disiplin yang kaku dan hegemo­nik—hingga pengakuan terhadap kontribusi FI terhadap perkembangan sains dan teknologi pun berangsur-angsur menguat belakangan ini. Meskipun sulit untuk dikuantifikasi, kontribusi itu sebetulnya cukup jelas, misalnya dalam istilah-istilah maupun konsep (cyberpunk, cloning, cyborg, android, robot, dll.) yang justru lahir oleh para seniman FI, sebelum ilmuwan memikirkannya. Ketika para seniman FI menempatkan sains dan teknologi sebagai suatu wahana imajinasi kreatif, mereka se- betulnya tengah menjembatani kesenjangan institusional antara seni, sains dan teknologi sebagai disiplin. Karya-karya FI mengungkap sisi estetis dari sains dan teknologi melalui jukstaposisi (penjajaran) sekaligus sintesis (penggabungan) yang paradoksal antara optimisme terhadap kemajuan sains dan teknologi di satu pihak dan ketidakberdayaan manusia untuk memecahkan misteri besar alam semesta di pihak lain.

INSTRUMENTA #2: Machine/Magic percaya bahwa ada irisan-irisan yang inheren dan niscaya antara seni media dengan FI sebagai konsep maupun praktik. Bagi kedua praktik ini, sains dan teknologi tak lain me- rupakan kekuatan kreatif sekaligus destruktif. Karya-karya FI maupun seni media memenuhi kebutuhan manusia untuk keluar melampaui kenyataan sehari-hari dan kesadaran “normal,” melalui imajinasi menuju dunia penuh keajaiban (wonder), kebaruan (novelty), pesona (amazement) sekaligus impian (utopia). Ketika para seniman media dan FI bersikap kritis pada kemajuan sains dan teknologi, mereka tengah me­nyadarkan kita kembali bahwa ambisi-ambisi manusia untuk menguasai semesta sesungguhnya hanyalah refleksi dari keangkuhan dan kesombongan.

Mesin/Magi, yang dipilih sebagai judul edisi kedua festival Instrumenta kali ini, awalnya terinspirasi dari gejala sin­kretik yang menonjol dalam kehidupan masyarakat Indonesia di hadapan berbagai fenomena perubahan sosio-kultural yang disebabkan oleh kehadiran sains dan teknologi. Dalam narasi sejarah era kolonial, transisi dari kebudayaan masyarakat pra-industri di Nusantara menuju modernisasi (yang ditandai oleh “kedatangan me- sin”) ternyata menghasilkan sintesa yang unik. Salah satu contohnya adalah ritual cembengan—arak-arakan dan upacara sesaji—yang dilangsungkan di pabrik gula di Jawa Tengah. Sejarah ritual ini tidak hanya menunjukkan lentur dan adaptifnya ma­syarakat Nusantara terhadap proses modernisasi, tapi juga memperlihatkan bagaimana kemajuan sains dan teknologi sesungguhnya tidak pernah linier dan tunggal. Lahirnya upacara cembe- ngan menyadarkan kita bahwa penerimaan terhadap sains dan teknologi tetap harus mempertimbangkan dimensi-dimensi etis. Wacana sains dan teknologi tidak seharusnya melulu tentang apa yang bisa dicapai secara ilmiah dan teknis, tapi juga apa yang seharusnya dan tidak semestinya dilakukan oleh sains dan teknologi.

Pameran INSTRUMENTA #2: Machine/Magic menampilkan karya-karya yang mempersoalkan kembali batasan antara yang ilmiah dan artistik—dua hal yang seringkali dianggap memiliki logika berseberangan. Melalui metafor “mesin” dan “magi,” festival ini juga tengah mempertanyakan hirarki antara yang “masinal” dan yang “magis.” Pada masa Revolusi Industri, mesin dianggap sebagai entitas rasional yang menggantikan kepercayaan pada yang magis. Namun jika pada masa lampau mesin dipandang sebagai jawaban atas keterbatasan tubuh manusia dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan rasionalnya, hari ini mesin (dalam berbagai wujud mutakhirnya, dalam bentuk komputer, Internet dan kecerdasan buatan) telah bertransformasi menjadi kekuatan yang menggerakkan tubuh dan kesadaran manusia. Seringkali kita tak sadar bagaimana “mesin-mesin” itu mengendalikan kegiatan kita sehari-hari.

Agung Hujatnikajennong
Direktur Artistik

In each iteration, Instrumenta, international media art festival tries to map relations and the overlap between media art practices—in layman terms, art which employs the use of “media technology”—with contemporary culture dynamics.
In response to various phenomena of change in society, media art practice infallibly stood on two sides.

On one hand, media artist embraces the advancement of science and technology. They harness, celebrate even, this advancement as a revolution on the practice of art. Media technology—photography, film, video, computer, Internet, etc.—has been employed by artists to create idiom, style, even new artistic medium impossible to the conventional art medium. Interdisciplinary collaboration projects between artists and scientists are an exemplification of this principle.

On the other hand, media art is also a practice critical to the overly positive attitude towards the progress of science and technology. In truth, in addition to promote changes and improvements in life, science and technology has given rise to war machinery, something which in the last two centuries have taken millions of lives. In the hands of capitalists and industrialists, technology change face into an exploitative instrument. Politicians capitalize on media technology to create ideological propaganda and hoax. When technology is permeated by interests against the people, media artists are in the forefront of critics. Many works of media art try to unveil this fake disguise of reality constructed through science and media technology.

Instrumenta tries to emphasize the effort to see the relation between media art’s tendencies above with a sizeable artistic phenomenon, which is often called “science fiction” (SF). The entire time, SF is almost always considered a part of global popular culture (through comics, animation, film novel, digital game, etc.) which reflects the taste of the market and therefore deemed inferior. Distinguished by a narrative that cross prophetic and artistic vision with theory, hypothesis and scientific fact, SF once seen as a dubious “hybrid entity”—a contradictio in terminis. From high-art perspective, SF is categorized as kitsch (low art) and concurrently a manifestation of excessive reliance on non-artistic paradigm (science). At the same time, in the view of scientists, SF works are merely wild imagination with no practical relevance and direct contribution to scientific and technological innovation.

SF works receives a more adept position as an object of cultural study following the advent of postmodernism and New Left School in the ‘60s and flourishing since the global development of cultural studies in the ‘80s. It has to be conceded though, the influence of intellectual class’ rejection on a strict division between high art/modernism and popular/mass culture is behind this trend. With the arrival of popular culture studies, SF works are starting to receive academic attention as a text or narrative with representation (postcolonial, history, gender, race, sexual identity, class, etc.). However, in some cases, the study’s model often reduces the discourse of aesthetics/artistic elements; the primary medium of SF artists.

Slightly different with the approach above, INSTRUMENTA #2: MACHINE/MAGIC still considers SF as an artistic expression ever to be found in the history of human civilization. SF is human imagination of science and technology which gives alternative avenue to speak about scientific and technological practices in the society throughout different times. SF works describe “possible” and “impossible” relations between human and technological progress. In popular SF works, not all facts, hypothesis or scientific theory becomes the reference throughout a narrative. There are more than a few SF works that combine science with spirituality, magic and fantasy. In several SF works, science and technological advancement, in fact, was unable to wrestle with unexplained supernatural forces.

Up to a certain extent, it could be said of SF works that they managed to “deconstruct” science—science as a rigorous and hegemonic discipline—to the consequence that recognition of SF’s contribution to the development of science and technology are slowly improving. Although difficult to quantify, that contribution is actually rather clearly expressed, for example, in terminologies or concept (cyberpunk, cloning, cyborg, android, robot, etc.) which was created by SF artists, before even scientist had ever thought of them. When SF artists put science and technology as a creative imagination medium, they are in fact closing the institutional gap between art, science and technology as a discipline. SF works unearth the paradox between optimism with regard to scientific and technological progress on the one hand and human helplessness to crack open universe’s great mystery on the other.

INSTRUMENTA #2: MACHINE/MAGIC believes that there exists an intrinsic convergence between media art with SF as a concept or practice. For both these practices, science and technology amounts to no both creative and destructive. SF works and media art serves human need to go above to transcend daily lives and “normal” consciousness through imagination to a world with wonder, novelty, amazement and utopia. When media and SF artists are critical on scientific and technological breakthroughs, they are making us aware that human ambitions to dominate the universe is merely a reflection of arrogance and pride.

Machine/Magic is chosen as the title of Instrumenta’s second edition, informed by the syncretic symptoms appearing recklessly in Indonesia on the face of numerous socio-cultural phenomena brought about by the presence of science and technology. In the historical narrative of colonial times, the transition from pre-industrial cultural society in Indonesia to modernity (marked by the “arrival of machine”) ostensibly brought out a unique combination. One of the examples are cembengan ritual—a march and offering ceremony—which are done in sugar factories in Central Java. The history of this worship shows not only the fluidity and adaptability of Indonesian society in the face of modernity, but that scientific and technological progress is never linier and singular at the same time. The existence of cembengan ceremony opens our eyes that acceptance of science and technology must always bears in mind ethical dimension. Scientific and technological discourse must not always be about what can be achieved scientifically and technically, but also what ought and ought not to be done.

INSTRUMENTA #2: MACHINE/MAGIC presents work which inquire into the limit between what is scientific and what is artistic—two things which, more often than not, are pitted against each other. Through “machine” and “magic” as metaphor, this festival also questions the hierarchy between what is “mechanical” and what is “magical.” In the age of Industrial Revolution, machine is considered as a rational entity replacing the beliefs of the magical. Nevertheless, if in the past machine is seen as an answer to bodily limit in performing rational work, today, machine (in its latest appearance: computer, Internet and artificial intelligence) have transformed into a power controlling human’s body and consciousness. As often as not, we are ignorant of how those “machines” control our daily lives
.
Agung Hujatnikajennong
Artistic Director

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.